Kamis, 18 Januari 2009. Hari itu ada pelajaran bahasa indonesia-nya Bu Udi. Seperti biasa, beliau masuk ,duduk dan setelah bertanya apakah kita sudah siap menerima pelajaran ( setiap masuk kelas pasti ngomong itu, udah seperti trademarknya beliau :p), dan sedikit menjelaskan tentang paragraf Deskripstif sebagai materi hari itu.
Bu Udi tersayang kemudian memberikan kami tugas menulis paragraf Deskriptif, dengan pilihan, mendeskripsikan ayah atau ibu. “Oh no!”, pikir gw. Itu tema yang sensitif banged.. heemm. Okelah demi menjalankan tugas dan lagipula, saat itu mudah sekali membayangkan wajah ayah-ibu. Setelah menimbang cukup lama (dalam hati tentunya), akhirnya gw memilih untuk menulis tentang ayah. Hmm sudah tak terhitung tulisan dan puisi tentang ibu, jarang-jarang nih menulis tentang ayah ;).
Gw ngelihat samping kanan kiri dan belakang (ga ngeliat ke depan, soalnya gw duduk paling depan sih..hhe), ngeliat temen-temen dengan tampang bingung mereka. Lucu juga, baru kali ini kami disuruh menulis tentang orangtua. Deskriptif pula. Pasti tulisan teman-teman lebih bagus dari gw deh.
Setelah tersenyum,-senyum melihat mereka, gw kembali fokus ke buku tulis di depan gw. Diam dan mulai membayangkan wajah ayah. Dan akhirnya, i've got the feel. Hhe. Dan inilah tulisan gw yang cukup sentimentil...
Bu Udi tersayang kemudian memberikan kami tugas menulis paragraf Deskriptif, dengan pilihan, mendeskripsikan ayah atau ibu. “Oh no!”, pikir gw. Itu tema yang sensitif banged.. heemm. Okelah demi menjalankan tugas dan lagipula, saat itu mudah sekali membayangkan wajah ayah-ibu. Setelah menimbang cukup lama (dalam hati tentunya), akhirnya gw memilih untuk menulis tentang ayah. Hmm sudah tak terhitung tulisan dan puisi tentang ibu, jarang-jarang nih menulis tentang ayah ;).
Gw ngelihat samping kanan kiri dan belakang (ga ngeliat ke depan, soalnya gw duduk paling depan sih..hhe), ngeliat temen-temen dengan tampang bingung mereka. Lucu juga, baru kali ini kami disuruh menulis tentang orangtua. Deskriptif pula. Pasti tulisan teman-teman lebih bagus dari gw deh.
Setelah tersenyum,-senyum melihat mereka, gw kembali fokus ke buku tulis di depan gw. Diam dan mulai membayangkan wajah ayah. Dan akhirnya, i've got the feel. Hhe. Dan inilah tulisan gw yang cukup sentimentil...
Ayah, Panutanku
"Aku bersyukur kepada Allah SWT. Yang Maha Penyayang karena aku masih bersama kedua orangtuaku sampai saat ini. Diantara kedua orangtua ku, aku lebih dekat dengan ayah, secara tidak langsung. Ayah ku bernama Juhanda M. Yunus. Orang-orang memanggilnya Bapak Juha. Tetapi semenjak beliau pulang haji, orang-orang memanggilnya Pak Haji. Jika kau bertemu ayahku, sangat gampang mengenalinya. Ayah berpostur sedang, berumur sektar 50 tahunan, rambutnya telah banyak beruban, dan memiliki bekas cukur jenggot putih di dagunya. Wajah ayah tipikal Sunda asli, dengan hidung mancung dan kulit putih. Paras wajahnya ramah dan terlihat selalu tersenyum. Melihat wajahnya yang teduh, semua orang bisa menebak beliau orang yang sangat sabar. Ya, ayahku adalah orang yang paling sabar yang pernah aku kenal.
Pekerjaan beliau yang monoton dan selalu ada di belakang meja ,tidak pernah membuat ayah bosan. Ayahku selalu mensyukuri segalanya. Dia tidak pernah terlihat marah-marah atau membentak. Beliau selalu menunjukkan perasaanya lewat warna di wajahnya. Jika melihat anaknya membandel, ayah hanya menggeleng dan berkata “ Jangan pernah kau jauh dari agama “. Nasihatnya walaupun sangat singkat, sungguh menggetarkan hati dan membuat anak-anaknya menyesali kesalahannya. Beliau yang irit kata, lebih suka memberi contoh langsung kepada anaknya tanpa perlu menggurui. Bagai air yang mengalir tenang, tetapi sangat dalam. Beliau adalah teladan bagi anak-anaknya."
Setengah jam kemudian , Bu Udi mempersilahkan salah satu dari kami untuk maju dan membacakan hasil paragrafnya. Well.. gw agak ragu buat maju. Pengen sih. Tapi gw yakin, gw pasti ga kuat kalo bacain ini didepan temen-temen (oke. Lebay yah ;p)
Tapi giliran kedua, gw memantapkan diri buat maju.
Dan akhirnya gw maju dan ngebacain.
Dan ga tau kenapa.... shitttt.. tangan gw gemetaran dan suara gw juga mulai bergetar. I can't hold this tears ... Finally, seperti perkiraan gw, gw nangis juga di depan. Huffhhh. Cengengg..
Selesai ngebacain dan temen-temen ngasih tepuk tangan.
Sepulangnya beberapa temen sekelas nyamperin dan bilang.. “ ros , tadi lo keren loh ngebacainnya!” , “ ci, tadi gw jadi ikut terharu tau ga.. “, “ ross, tadinya gw juga mau maju..”, dsb dan dsb.
Gw cuma bisa tersenyum. Dalam hati gw, gw masih bingung.. agak sentimentil jadinya nih. Ada yang kurang ya . Ayah ga hanya bisa dideskripsikan dengan kata”-katadiatas sihh yang menurut gw tuh hambar. Yah seenggaknya, walaupun gw ga bisa bacain langsung depan ayah, gw masih bisa bacain itu depan orang lain ,seolah” beliau ada dihadapan gw langsung...
keep me in rock :) !







